Sunday, November 23, 2008

A Balance Sheet of Lies atau Kegagalan Intepretasi?

Hampir setiap malam, saya selalu menyempatkan diri untuk membaca berbagai artikel terbaru dari situs yang berbicara mengenai global economy dan capital market. Ini cara saya untuk melakukan kompensasi atas kebiasaan saya yang (hampir) tidak pernah membaca koran nasional dalam sepuluh tahun terakhir. Seiring dengan perkembangan kecepatan internet maka semakin jarang saya menyentuh koran tersebut. Hanyalah Benny and Mice dari harian Kompas yang tidak pernah terlewatkan. Sedangkan berita aktual mengenai berbagai hal kebanyakan saya dapatkan dari portal berita di internet.

Begitu pula dengan sebagian judul diatas yang aslinya adalah sebuah judul dari komentar seseorang terhadap artikel yang berbicara mengenai kejatuhan saham Citigroup. Komentar yang menyiratkan emosi si penulis terhadap otoritas keuangan di US dan rasa tidak percaya terhadap berbagai isi laporan keuangan perusahaan terbuka di pasar saham US. Buat saya ini sungguh menarik karena kejadian yang mirip dan serupa juga tengah berlangsung di negara tercinta ini.
Beberapa waktu yang lalu, seorang ahli ekonomi Indonesia menyatakan ketidakpercayaannya terhadap proyeksi pertumbuhan GDP Indonesia di 2009 yang hanya 3.5% yang dikeluarkan oleh EIU. Dia mengatakan bahwa proyeksi tersebut kelewat rendah. Memang bila kita berpihak pada data yang dikeluarkan oleh World Bank, ADB, IMF dan beberapa sumber lain - kebanyakan memperkirakan sebesar 5% sampai dengan 6%. Manakah yang benar? Hanya waktu yang dapat membuktikan kebenaran tersebut.

Sekarang ini yang sedang hangat di publik adalah argumentasi sekitar kebijakan sistem devisa bebas. Kebijakan yang terkait erat dengan floating exchange rate atau nilai tukar mengambang. Beberapa ekonom nasional mengatakan bahwa setelah sepuluh tahun, terbukti sistem ini tidak cocok dengan perekonomian Indonesia. Berbagai fakta negative dijadikan dalih dari argumentasi ini. Saya pribadi tidak habis pikir mengapa para ekonom tersebut berpendapat seperti itu. Semestinya argumentasi tersebut dimunculkan paling tidak dari lima tahun yang lalu. Bukan pada saat terjadi masalah setelah sepuluh tahun.

Dalam cerita yang berbeda, seorang senior analis yang berkecimpung di pasar saham pernah mengatakan kepada saya di bulan Maret lalu, "Bang, fasilitas margin itu bagus dan sampai dengan saat ini membawa manfaat yang baik khususnya dalam pertumbuhan pasar saham di Indonesia". Ini terkait dengan tulisan saya mengenai fasilitas margin di sekuritas di Indonesia. Waktu berlalu dan kini sangat mudah mendapatkan berita seputar permasalahan margin yang hinggap dan menciptakan penyakit kronis di berbagai sekuritas.

Ibarat sebuah balance sheet yang berisi informasi keuangan sebuah perusahaan. Sebaik apapun kita melakukan analisis terhadap informasi yang termuat di dalam neraca tersebut, akan menjadi analisis usang bila informasi tersebut telah dipoles dan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Dilain sisi, sebaik dan seakurat apapun informasi yang tersedia akan sia sia bila kita tidak mampu melakukan interpretasi secara baik.

Disadari atau tidak, saat ini begitu banyak informasi yang keliru dan analisis yang keliru (atas sebuah fakta). Semakin lama pelaku pasar akan semakin lelah menanggapi berbagai informasi dan analisis yang ada. Pada saatnya nanti kelelahan ini akan memuncak dan menggiring pasar untuk mencapai titik terendah.

Dalam konteks perekonomian di US, titik terendah ini diidentifikasi oleh sebagian ekonom sebagai stagdeflation dan sebagian lagi percaya bahwa hal tersebut adalah hanyalah resesi berkepanjangan. Bagaimana dengan kemungkinan titik terendah di Indonesia? Identifikasi apa yang sepatutnya diberikan dan sekaligus dikhawatirkan?



Hanyalah sebuah pandangan logis ekstrim terhadap nilai informasi, akurasi analisis dan validitas sebuah intepretasi.

3 comments:

Just For Music said...

blog nya lumayan di google, kenapa gak dipasangi iklan dariKumpulblogger biar dapat duit

Balicode said...

'titik terendah' kira-kira kapan menurutmu mas?
thanks
dera

Kemas Finandi Abdul Aziz said...

kalo gak salah, ini yang disebut window accounting ya mas? seperti yang sudah terjadi di Exxon, akhirnya perusahaan raksasa tersebut pun harus menikmati dampak terjun bebasnya...