Sunday, August 17, 2008

Renungan Kemerdekaan: Adakah Kemerdekaan di Bursa Saham?

Seandainya pada tanggal 17 Agustus 2008, perdagangan di BEI tidak diliburkan, apakah indeks BEI juga akan turut dinaikkan beberapa point seiring berkibarnya bendera merah putih di seluruh pelosok Indonesia? Mungkin iya tapi mungkin juga tidak.

Sulit mengharapkan kenaikan indeks atas nama rasa kebangsaan. Pasar saham tidak mengenal rasa kebangsaan, rasa patriotisme maupun rasa rasa lainnya. Faktor psikologis pasar memang menjadi salah satu variable yang turut mempengaruhi dinamika harga saham tapi bila dirunut faktor psikologis dimaksud merupakan buah pemikiran rasional yang didasari fakta, informasi dan pengetahuan teknis.

Dalam renungan di pagi dan siang hari ini tentang kemerdekaan, ada pertanyaan yang sangat mengusik pikiran dan hati saya. Adakah kemerdekaan di bursa saham? Apabila ada, pasar saham mana yang merdeka dan pasar saham mana yang belum merdeka?. Kemudian apa sebenarnya definisi kemerdekaan di dalam konteks pasar saham? Dengan indeks BEI di 2085 pada penutupan Jumat 15 Agustus yang lalu, dapatkah kita mengatakan bahwa BEI telah atau belum merdeka?

Dari hasil browsing berbagai situs di internet, ada beberapa artikel yang mengkaitkan arti kemerdekaan dengan kinerja bursa sebagai bagian dari kinerja perekonomian dan keuangan negara tersebut. Namun saya belum menemukan artikel yang mengemukakan mengenai arti kemerdekaan di bursa saham itu sendiri. Berhubung sudah terlanjur menghabiskan waktu maka saya coba untuk menuangkan pikiran pikiran tersebut dalam artikel ini. Yah, siapa tahu dapat bermanfaat bagi orang lain. Setidaknya artikel ini dapat menjadi acuan saya untuk menulis setiap ulang tahun Republik tercinta ini.

Kali ini, saya coba melihat dari satu hipotesa yang paling sederhana: pasar saham merdeka bila produk (termasuk produk turunan seperti reksa dana) pasar tersebut telah menjadi bagian hidup dari berbagai kalangan masyarakat di negara tersebut.

Di negara kita, sampai dengan saat ini hanya sebagian kecil masyarakat di kalangan menengah atas yang menikmati dinamika investasi di BEI, itupun terbatas hanya pada kota-kota besar. Dalam perjalanan saya ke berbagai daerah di Sumatra dan Kalimantan Timur, hanya sedikit sentra-sentra perdagangan saham yang tersedia baik disebabkan minimnya animo masyarakat akibat kurangnya informasi dan pengetahuan teknis maupun keterbatasan infrastruktur pendukung. Masih jauh dibandingkan dengan China, India, Singapore - apalagi dibandingkan dengan negara2 maju.

Acuan lain yang dapat dipakai adalah keberadaan ORI yang ditujukan untuk menjaring investor retail di negara ini. Memang benar, ORI telah sukses menjaring investor retail baru di berbagai kalangan di Indonesia dan setidaknya menjadi cikal bakal kemerdekaan pasar obligasi di Indonesia. Namun demikian, seberapa besar penyebaran ORI secara geografis? Apakah pemegang ORI tersebar di seluruh nusantara? Rasanya belum.

Menurut saya, sudah saatnya kita sebagai pelaku di pasar modal Indonesia untuk turut berpartisipasi meningkatkan animo investasi masyarakat di pasar modal khususnya di pasar saham. Investasi saham harus menjadi lebih mudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia dimanapun lokasi mereka. Animo ini dapat meningkat dengan memberikan pengetahuan dasar dan informasi secara intensif kepada masyarakat dan diikuti dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai.

Di Jepang, ada produk saham yang disebut "Mini Kabu" atau stock mini - unit saham yang dikemas dalam satuan harga rendah sehingga dapat dijangkau oleh investor retail. Bagaimana dengan di Indonesia? Berapa banyak yang sanggup menikmati saham PTBA, ASII, TLKM dan sebagainya yang telah mencapai harga tinggi?

Saham bukanlah komoditi investasi mewah milik golongan elite. Saham harus menjadi komoditi umum yang dinikmati seluruh masyarakat. Harga dan unit saham harus dikemas sehingga terjangkau oleh banyak pihak.

BEI harus dapat dinikmati oleh seluruh komponen bangsa Indonesia.

Salam Kemerdekaan!

4 comments:

Anonymous said...

tan yang menarik

johannes said...

sekalian aja yah invest saham seperti invest beli rumah bisa dikpr heheheh. jadi semua org bisa ikut nikmati.

tere616 said...

masalahnya, saham identik dengan "resiko" yang bisa mengakibatkan orang kehilangan "simpanannya".

Nah, untuk yang di luar "menengah ke atas" tadi, tentunya lebih baik menahan resiko bukan ?

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.