Monday, March 10, 2008

Menunggu Datangnya Tamu Tak Diundang – Krisis Keuangan Sistemik 2008

Seperti halnya menunggu kedatangan seorang tamu selalu ada perasaan berharap. Berharap sang tamu memenuhi janji dan datang tepat waktu maupun berharap sang tamu membatalkan kedatangannya karena kehadirannya tidak diharapkan sang empunya rumah.

Krisis keuangan jelas merupakan tamu yang tak diundang dan tak diharapkan untuk datang. Namun, apa yang harus dilakukan bila tamu tak diundang ini terus menerus memperlihatkan hasratnya untuk segera datang, mengetuk pintu dan kemudian merepotkan tuan rumah? Begitulah mungkin perumpamaan yang dapat dilukiskan mengenai tamu yang tidak diundang oleh bangsa Indonesia, sang krisis keuangan.

Melihat labilnya kondisi pasar keuangan global, melambungnya harga komoditas utama dunia dan melemahnya mata uang US telah menciptakan suatu potensi kuat untuk terjadinya krisis keuangan global secara sistemik.

Artikel dari Roubini dalam websitenya mengenai 12 langkah menuju kehancuran keuangan menjabarkan suatu scenario mengenai terjadinya krisis, model penyebaran dan respon kebijakan. Artikel ini menarik dan penting untuk disimak sebagai salah satu acuan pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis keuangan di Indonesia.

Ada tiga faktor utama yang dapat dijadikan patokan sederhana dalam melihat potensi krisis kali ini yaitu kondisi pasar modal di Indonesia, tingkat suku bunga BI dan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing. Dari ketiga faktor tersebut, semuanya memiliki keterikatan (kalau hendak tidak dikatakan ketergantungan) dengan kondisi perekonomian global.

Kondisi pasar modal di Indonesia dapat dipantau melalui naik turunnya indeks BEI. Dalam artikel terdahulu, saya mengatakan bahwa BEI saat ini dalam kondisi inflated market atau bubble market. Prestasi BEI tahun lalu dengan menjadi bursa terbaik ketiga di Asia tidak lepas dari tingginya investasi asing di BEI serta penilaian pasar yang condong bertumpu pada penilaian teknikal daripada kemampuan fundamental dari emiten sehingga terjadi over-valued pada harga pasar.

Investasi asing yang masuk ke BEI merupakan berkah bagi pasar modal tapi perlu dipahami bahwa dana ini dapat pergi dari pasar di saat kondisi pasar memburuk. Penurunan signifikan di bursa utama saat ini membuat investor global untuk merubah strategi risiko investasi mereka, terutama investasi ekuitas di emerging market seperti Indonesia. Faktor penyebab adalah meningkatnya risiko sistemik di bursa saham, opsi investasi yang lebih baik di komoditas dan berkurangnya likuiditas di pasar keuangan serta yang sangat penting turunnya ekspetasi atas kinerja pasar saham.

Cepat atau lambat, pada skenario terburuk dari bursa global maka investasi asing akan keluar dari Indonesia atau terjadi capital flight out. Kepergian investasi asing akan membuat indeks bursa turun secara drastis dan berpotensi melemahkan nilai tukar Rupiah.

Kedua, tingkat suku bunga. Awal minggu lalu, BI mengatakan tetap mempertahankan suku bunga sebesar 8 persen. Salah satu alasan adalah untuk mengendalikan tingkat inflasi yang saat ini cenderung untuk naik. Kebijakan ini didukung pula oleh Menteri Keuangan dan beberapa pihak dengan berbagai alasan yang serupa.

Saya melihat kebijakan tersebut sebagai langkah yang tidak tepat waktu dan obat yang keliru dalam mengendalikan inflasi saat ini. Mengapa? Kenaikan harga minyak dan bahan pokok saat ini lebih banyak didongkrak oleh naiknya harga komoditas utama di tingkat global sehingga meningkatkan biaya produksi dan transportasi yang berujung pada kenaikan harga produk dan jasa.

Mempertahankan suku bunga tinggi juga dapat ditafsirkan sebagai hasrat pemerintah untuk menarik hot money masuk ke Indonesia. Berharap agar dana tersebut parkir sementara di Indonesia dalam bentuk surat berharga yang kemudian dapat menarik dana asing lainnya untuk masuk ke pasar modal dan pasar riil.

Sebaliknya, menurunkan suku bunga 25 basis point saja sudah dapat membantu pasar riil dalam mendapatkan biaya kapital yang lebih rendah dan meningkatkan kinerja dari perekonomian. Ini jauh lebih bermanfaat daripada sekedar mengharapkan dana asing yang bisa menjadi boomerang setiap saat dana tersebut keluar dari Indonesia secara besar besaran. Lagi pula, berapa besar efek terciptanya tambahan inflasi dengan menurunkan suku bunga 25 point? Laju inflasi yang dibawa oleh kenaikan harga komoditas di tingkat global tidak dapat ditahan dengan mempertahankan suku bunga. Kecuali Indonesia mampu swasembada di seluruh komoditi utama. Mampukah?

Ketiga, nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing lainnya. Usaha BI untuk melakukan stabilisasi nilai tukar Rupiah memang patut dihargai. Tapi, stabilisasi dengan melakukan intervensi di saat yang tidak tepat merupakan tindakan yang keliru dan menghabiskan uang rakyat.

Pada saat ini, tindakan intervensi dengan memaksa Rupiah tetap berada di bawah 9100 hanya cukup untuk menjaga wibawa otoritas keuangan Indonesia. Menghabiskan waktu, tenaga dan biaya tanpa menciptakan manfaat yang jelas. Kegiatan ini juga terlihat hanya untuk menciptakan situasi yang menyenangkan bagi deposan besar dari pihak asing. Kembali lagi, terlihat seperti berharap dapat memikat dana asing untuk tetap parkir di Indonesia. Entah sampai kapan.

Dari sudut pandang yang berbeda, saya melihat bahwa sewajarnya Rupiah mengalami penurunan yang wajar seiring meningkatnya harga di pasaran dunia. Penurunan inipun tidak akan membuat lari seluruh dana asing. Kalaupun ada, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa penurunan akan signifikan. Penurunan nilai tukar memang akan meningkatkan biaya pokok di kalangan importer yang dampaknya tidak akan signifikan bagi ekonomi makro. Namun jelas akan mengurangi pundi2 keuntungan para importer.

Penurunan nilai tukar memang membuat tidak nyaman, tapi penting untuk terjadi pada saat kondisi sebenarnya dari Rupiah sudah lemah sehingga semua pihak secara perlahan dapat mengantisipasi kondisi terburuk. Bila terjadi guncangan lebih hebat di pasar keuangan, saya khawatir Rupiah dengan nilai tukar saat ini akan mengalami depresiasi signifikan, menyebabkan kejutan kuat di pasar riil dan panik di masyarakat.

Sekali lagi, ketiga faktor di atas sangat erat dengan kondisi perekonomian global yang dapat diintrepretasikan bahwa krisis besar di tingkat global akan secara langsung mengganggu perekonomian Indonesia dan pada akhirnya bila pemerintah tidak siap, maka krisis keuangan akan menjadi tamu tak diundang di Indonesia di 2008. Satu dasawarsa dari kunjungan yang lalu.

4 comments:

Anonymous said...

Hmmm, saya harus baca berkali-kali untuk posting ini (maklum bukan orang ekonomi). Apakah Indonesia bisa mengikuti jejak Thailand yang tidak populer dengan mewajibkan dana yang masuk untuk parkir minimal setahun sehingga tidak terjadi capital flight besar2an saat krisis terjadi. Kedua, faktor BI yang mempertahankan suku bunga apakah berusaha sejalan dengan policy pemerintah yang tetap ingin menarik investasi at all cost regardless the impact.
Ketiga, nice readings, banyak ilmu yang saya peroleh di sini. Salam.

Lukman said...

Krisis ekononomi memang tamu tak di undang yang benar-benar tidak diharapkan, saat ini seluruh penghuni bumi berharap-harap cemas dengan perekonomian AS yang terancam resesi (apakah fase saat ini sudah bisa dikatakan resesi ya ?)meski ada harapan Cina dan Eropa dapat menjadi penyeimbang kalau kalau ekonomi global rontok, ada penahannya. bila tidak semua pihak pasti tidak menghendaki terjadinya malaise kembali.

Anonymous said...

tamu itu memang tak diundang tapi kalau sebelum datang dia sudah menunjukkan tanda2 yang kita sudah familiar maka harusnya negara ini sudah siap untuk menjamu tamu tak diundang itu dengan beberapa tindakan yang memang sudah jauh2 hari dipersiapkan sehingga tamu itu tidak akan sempat mengganggu rumah kita ataupun merepotkan kita.


dan sebaiknya kita tidak memandang tamu tak diundang itu sebagai hambatan yang merepotkan tapi seharusnya kita jadikan sebagai tamu yang bisa memberikan banyak pelajaran dan informasi mengenai tamu-tamu selanjutnya yang akan datang ...yang siapa tau tamau-tamu selanjutnya itu merupakan teman2 dari tamu tak diundang itu.

it means, semua sudah ada pola nya. kalau bisa diprediksikan, bubble stock market terjadi setiap 10 tahunan, komoditi seperti emas terjadi setiap 25 tahunan walaupun itu bisa maju atau mundur tapi tetap pada kisaran tersebut.

best regards.

max_tantoelar@yahoo.com

Socrates Rudy Sirait, PhD said...

Thanks buat Toni, Lukman dan Max

Analisis sederhana ini hanyalah penggambaran adanya potensi terjadi krisis keuangan di tingkat global yang bisa menyebar dengan mudah ke Indonesia.

Potensi tidak selalu diikuti dengan kejadian tapi menganalisis suatu potensi memberikan kita kesempatan untuk berfikir ulang terhadap kebijakan2 yang telah diimplementasikan serta efek negatif yang mungkin terjadi di paruh waktu terdekat.

Saya setuju dengan Max, bahwa sikap pandang yang positive akan sangat membantu kita menghadapi segala potensi krisis yang terjadi.

Menjawab pertanyaan Toni mengenai Thailand, saya pribadi bukan yang pro terhadap segala bentuk capital controls karena biasanya akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi.

Salam